Sabtu, 12 Februari 2011

Cafe Halte Kuku Ruyuk, Mataram



Sekedar berbagi info aja, tempat kuliner di Kota Mataram yang satu ini lumayan enak, ramai kalau siang hari saat jam istirahat kantor. Nama tempatnya yaitu Cafe Halte Kuku Ruyuk. Cafe ini berlokasi di Jalan Majapahit, Mataram atau di depan SPBU Kekalik. Berbagai menu disajikan di cafe ini, ada Siomay, batagor, Cwie Mie, Ikan bakar/goreng, Ayam bakar/goreng, dan Rawon iga, sedangkan minumnya ada es teh, es buah, es jeruk dan berbagai jus buah. Bagi yang lokasinya deket dan tertarik, silakan langsung saja ke TKP.



ket: karena ada razia dari Satpol PP, kedai ini digusur, dan ane kagak tahu sekarang dimana rimbanya...

Sepasang Bule di Gili Meno, Lombok


Xixixixi untuk sekian kalinya jepret Bule. Kali ini bule di GiLi Meno. Di Gili Meno memang tidak seramai Gili Trawangan Bulenya. Gili meno tempat untuk mencari ketenangan jiwa, karena di sini benar benar tenang dan sunyi, apalagi kalau petang datang, tidak ada hiburan malam di sini, berbanding terbalik dengan Gili Trawangan, di Gili ini banyak sekali Cafe Cafe, sehinga Bule nya pun banyak.

Turtle Conservation di Gili Meno, Lombok


Seperti di Gili Trawangan, di Gili Meno juga terdapat Tempat Konservasi Penyu (turtle Conservation), akan tetapi di sini tempatnya lebih kecil, dan sedikit penyunya. Saat ini konservasi penyu di Gili Meno dilakukan oleh seorang warga. Konservasi penyu yang ada di Gili Meno merupakan cabang dari konservasi penyu yang ada di Gili Trawangan. Biaya perawatan diperoleh dari masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Gili Meno. Terdapat 3 (tiga) lokasi penetasan dan penangkaran di Gili Meno yaitu di depan Gazebo Hotel (sebelah timur), Diana Kafe (sebelah barat), Good Heart Bungalows. Saat ini terdapat 40 ekor penyu di Gazebo Hotel, 17 ekor di Good Heart dan 60 telur penyu yang sedang ditetaskan di Diana Kafe. Telur penyu yang dipelihara di dapat dari pantai di sekitar pantai Gili Meno yang diperoleh dengan mencari dimana penyu meletakkan telurnya.

Setelah penyu cukup umur, kemudian penyu tersebut dilepas ke laut. Pelepasan diikuti oleh para wisatawan dan warga sekitar. Hal ini dilakukan untuk menarik para wisatawan yang datang berkunjung ke Gili Meno. Beberapa jenis penyu yang pernah di lakukan penangkaran di Gili Meno adalah jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu bawang dan penyu batu. Penyu sisik merupakan penyu yang paling banyak ditemukan di Gili Meno.




Gili Meno, Lombok


Di Sekitar Pulau Lombok, ada tiga Gili (Pulau Kecil) yang cukup terkenal, yaitu Gili Trawangan, Gili Air (Ayer), dan Gili Meno, sedangkan yang paling besar, terkenal, ramai, dan banyak bulenya adalah Gili Trawangan, alhamdulilah ane pernah kesana. Nah pada kesempatan week end ini ane dan temen temen ane mengunjungi Gili Meno.

Sebenarnya Wisata kali ini sangat tidak terencanakan, karena sebenarnya week end ini ane dan temen ane rencananya mau mancing dengan didampingi seorang senior di kantor, akan tetapi karena sesuatu dan lain hal, rencana kami gagal, padahal udah beli alat pancing yang lumayan mahal.


Karena udah kepalang tanggung, sudah lumayan jauh dari pusat kota Mataram, jauh juga kalau mau balik lagi ke kota. Ya sudah akhirnya kami memutuskan untuk menyeberang saja ke Gili, awalnya kami mau nyebrang ke Gili Trawangan. Setelah sampai di Pelabuhan Bangsal, kami parkir motor trus menuju loket penjualan tiket. Nah tidak dinyana kami bertemu dengan rombongan yang ternyata temen sendiri (cuma beda kantor), wah senangnya, akan tetapi mereka berencana mau menyeberang ke Gili Meno, yaaa beda jurusan deh.

Setelah kami menanyakan ke petuga tiket, ternyata kapal ke Gili Trawangan masih lama berangkatnya, karena menunggu penuh dulu, sedangkan kalau ke Gili Meno harus menggunakan kapal charteran seharga Rp 350.000,00 setelah kami berunding, akhirnya kami memutuskan untuk bersama sama menyeberang ke Gili Meno, patungan bayarnya.


Gili Meno ini letaknya di tenga tengah antara Gili Air dan Gili Trawangan, tidak lama kapal berjalan, akhirnya kami sampai juga di Gili Meno, waw indah banget, lebih indah dari Gili Trawangan, airnya jernih sampai sampai dasarnya kelihatan, pasirnya putih, halus dan bersih. Kami lalu mencari tempat yang teduh untuk beristirahat sejenak, di bawah pohon yang rindang ini suasana sungguh damai, tenang, jauh dari kebisingan kota, karena disini memang tidak ada kendaraan bermotor. Banyak berdiri homestay dengan desain yang cukup unik, cocok sekali ditinggali oleh pasangan bulan madu, ohhh jadi pengeen. Suara burung berkicau bersahut sahutan, angin semilir, dan suara riuh ombak ombak kecil menambah damainya hati ini.


Setelah cukup puas beristirahat akhirnya kami memutuskan untuk naik cidomo mengelilingi pulau ini. Wah ternyata harganya mahal juga, kusirnya bilang satu cidomo Rp 150.000 yang bisa diisi tiga orang untuk mengelilingi pulau ini. Setelah melalui perdebatan yang cukup sengit dengan menggunakan bahasa setempat (sasak) , tentu saja temen ane yang asli lombok yang berdebat menawar harga, akhirnya kami mendapat harga Rp100.000 per cidomo. Okelah kami terima tarif itu, dan langsung berkeliling pulau ini.










Touring Menyusuri Sembalun, Lombok


Touring kali ini diawali dari Air Terjun Sendang Gila yang berada di Kaki Rinjani, bila saat berangkat dari Mataram ke Air Terjun kami melalui jalur barat, nah pulangnya kami mencoba menaklukan jalur timur yang menurut kabarnya cukup menegangkan karena harus naik lagi, membelah pegunungan sekitar rinjani dan juga membelah hutan di Sembalun, padahal kami belum ada gambaran apa apa, cuma bermodalkan petunjuk arah saja.


Wah ternyata jalur ini sangat tidak layak, jalannya sebagian besar rusak karena tanah pegunungan yang labil, sehingga aspal banyak yang terkelupas dan berlubang lubang. Jalan lumayan sempit, jadi kalau ada dua mobil dari arah yang berlawanan, ya harus benar benar hati hati. Di beberapa tempat di jalur yang kami lalui ada pemukiman, juga ada perkebunan sayur, dan strawberry.


Nah, saat sampai di suatu spot yang bagus, kami berhenti sejenak, untuk istirahat dan foto foto, di sini ada jalan beraspal yang membelah perkebunan tomat, yang kebetulan sedang berbuah tomatnya. di samping kanan kiri diapit pegunungan tinggi berkabut, udara di sini sangat dingin.




Setelah kami melalui berbagai pemukiman penduduk dan perkebunan, akhirnya kami mulai masuk wilayah hutan Sembalun, bukannya turun, jalan disini justru naik, lebih tinggi dan tinggi lagi, brrrrrr udara semakin dingin menusuk tulang, apalagi gerimis turun menambah dingin udara hutan ini. Harus lebih hati hati dalam mengendarai motor, jalan yang masih jelek, menanjak, dan menikung, serta licin.




Tidak lama memasuki kawasan hutan, perjalanan kami harus terhenti sejenak, karena ada longsor yang menutupi badan jalan, longsor ini baru saja terjadi, akan tetapi disini sudah banyak orang, banyak mobil yang berhenti, karena tidak dapat melanjutjan perjalanan, karena ini memang satu satunya jalur di sini, bila mau putar balik, sangat jauh sekali.


Untung saja disini ada warga yang siap siaga membantu, untuk motor masih bisa melewati longsoran ini, dengan menuntunnya. Kami dibantu oleh seorang warga menuntun motor menembus tanah longsoran. Alhamdulilah berhasil, akan tetapi motor jadi penuh lumpur, begitu juga kaki kami. Saya memberikan upah lima ribu rupiah sebagai ucapan terima kasih. Setelah foto foto sebentar, kami langsung melanjutkan perjalanan ini, karena hari sudah semakin sore.






Udara semakin dingin menusuk tulang, dan hujan mulai membesar, kami mengendarai motor dengan sangat hati hati. Kondisi jalan rusak, licin, menurun, dan menikung. Sesekali ada motor/mobil yang lewat berlawanan arah. Nah saat melewati suatu turunan yang cukup curam dan menikung, teman ane yang mengendarai motor (ane bonceng) kehilangan kendali motor, sehingga motor sedikit keluar aspal, terperosok dan jatuh. Temen ane jatuh ke depan, ane jatuh ke samping kanan, alhamdulilah tidak jatuh ke kiri, karena di kiri jurang. Ane langsung bangun, ane tidak memperhatikan keadaan ane sendiri ataupun temen ane, perhatian ane justru terarah ke barang barang ane, ane liatin saku ane, wah sobek, ane ambil hape di dalamnya, wah ternyata masih hidup, tapi basah, langsung ane matikan dan masukkan saku lagi.

Kemudian ane lihat motor ane, wah sepertinya tidak lecet karena jatuh ke tanah bukan aspal. Setelah itu ane baru teringat temen ane (haha jahatnya) ane tanya, "bisa bangun gak bhar?", dia jawab bisa, ane lega dia gak papa, tapi tetep aja dia gak bergerak dari posisi semula. Tidak lama dari arah atas terdengar suara motor, ternyata ada dua orang laki laki boncengan, setelah melihat kami, mereka berhenti dan mendekat, lalu menolong kami mengangkat motor dan memposisikan di aspal. Wah ternyata di sini orang nya baik baik, ane ditolong ama orang sini dua kali, saat longsor dan jatuh.

Setelah beberapa lama akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi, alhamdulilah kami masih sanggup, fiuh padahal kalau dilihat jarak ke mataram, masih sangat jauh. Selain menolong kami, dua orang tadi juga menunjukkan jalan ke arah Kota Mataram, sampai di sebuah persimpangan, kami berpisah arah, karena mereka tidak ke arah mataram. Saya sangat berterima kasih sekali kepada mereka.

Perjalanan ke Mataram masih 45 KM lagi (ane lihat di petunjuk arah), wah ternyata masih jauh banget. Lagi asik asiknya memacu kendaraan untuk mengejar waktu agar sampai Mataram sebelum gelap, eh ternyata malah hujan deras mengguyur, kami langsung menepi di sebuah warung sembari istirahat dan minum kopi untuk sedikit menghangatkan badan, karena kami memang sudah sangat kdinginan, ujung jari tangan udah berkerut kerut, tanda kedinginan. Wah ternyata ujannya lama gak berhenti, karena hari udah malam akhirnya kami nekat menerobos hujan. Alhamdulilah kami dapat sampai Kost dengan selamat.....

Air Terjun Tiu Kelep, Lombok Utara


Yuph, melanjutkan postingan Sebelumnya yang PART 1, sekarang adalah bagian ke duanya. Nah setelah menikmati air terjun pertama, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Tiu Kelep dengan melewati jembatan berlubang, dan berbagai track yang lumayan butuh tenaga, karena selain jaraknya yang lumayan jauh, jalannya kecil, licin, membelah hutan, menyeberang sungai dengan batu batu besar seperti pada gambar di bawah ini:





Alhamdulilah setelah berjalan sekitar setengah jam, akhirnya kami sampai juga di tujuan, yaitu Air Terjun Tiu Kelep/Tiu Kelep Waterfall, Subhanallah indah banget, jauh lebih indah dari yang pertama, tanpa pikir panjang, kami langsung buka baju, cuma pakai kolor dan langsung nyemplung, bbbrrrrrrrr, airnya dingin banget, segarrrrrr, mantaph. Rasanya pengen seharian disini, benar benar melepaskan stres, lelahnya melewati ratusan anak tangga dan perjalanan jauh langsung hilang.





Setelah sekian lama kami berendam, sudah terpuaskan, kami akhirnya menyudahi berendamnya, akan tetapi saat mau pakai baju, eh ada segerombolan bule yang datang, tanpa malu malu, mereka langsung buka baju, yang lelaki cuma pakai kolor, yang perempuan pakai bikini, hahai, kami menunda ganti baju, duduk duduk dulu sambil menikmati pemandangan ini, wkwkwkwk, ini nih fotonya (maaf agak burem karena lensanya mengembun, saking dinginnya) :