Nama Pantai Klui memang tak setenar Pantai Senggigi, tapi jangan salah, tiap sore Pantai ini selalu ramai oleh pengunjung lokal. Karena memang Sunset terlihat bagus dari Pantai ini. Untuk mengetahui lokasinya, baca saja postingan saya sebelumnya mengenai Pantai Klui ini . Di bawah ini ada beberapa foto Sunset di Pantai Klui :
Minggu, 06 November 2011
Taman Narmada, Lombok Barat
Mau wisata yang segar sejuk dan tidak jauh dari pusat Kota Mataram? Pilihannya jatuh ke Taman Wisata Narmada. Taman ini berlokasi di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Persis di depan Pasar Narmada, di pinggir Jalan besar sehingga mudah ditemukan. Rutenya Mataram - Cakranegara - Narmada, tidak sampai setengah jam kita bisa sampai TKP.
Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah (mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta (air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.
Di Komplek ini, terdapat bangunan bernama Bale Loji (gambar di bawah). Pada zaman kerajaan Raja Anak Agung Karangasem, bale tersebut di jadikan istana kedua setelah istana di Mayura, baguna ini berfungsi sebagi tempat peristirahatan raja Anak Agung dan isterinya selama berada di taman narmada. Bale Loji merupakan salah satu peninggalan budaya yang dilindungi oleh Cagar Budaya. Interior dan Exterior pada bangunan tersebut masih asli peninggalan zaman Raja Anak Agung Karangasem.
Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah (mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta (air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.
Di Komplek ini, terdapat bangunan bernama Bale Loji (gambar di bawah). Pada zaman kerajaan Raja Anak Agung Karangasem, bale tersebut di jadikan istana kedua setelah istana di Mayura, baguna ini berfungsi sebagi tempat peristirahatan raja Anak Agung dan isterinya selama berada di taman narmada. Bale Loji merupakan salah satu peninggalan budaya yang dilindungi oleh Cagar Budaya. Interior dan Exterior pada bangunan tersebut masih asli peninggalan zaman Raja Anak Agung Karangasem.
follow us : @lombokkita
Sabtu, 05 November 2011
Kisah Unik di Bandara Internasional Lombok (05112011)
Akan tetapi stelah berjalan beberapa waktu, bandara tersebut berangsur angsur berbenah. Sekarang tidak se-semrawut dulu saat dibuka yang disebabkan oleh Euforia berlebihan dari masyarakat, bukan cuma masyarakat sekitar lho. Lha yang datang itu malah kebanyakan naik truk atau bak terbuka, tentu itu warga yang rumahnya jauh dari bandara.
Ada Empat kisah yang saya alami dan saya lihat sendiri hari Sabtu kemaren. Silakan menyimak :
- Kisah Pertama. Kisah ini diawali saat teman saya, sebut saja "mawar". Saat sampai Bandara, mawar kelaparan, berdasar info yang kita dapat, di bandara ada ibu ibu penjual nasi bungkus. Sebelum check in kita mencari penjual tersebut, setelah menyusuri bagian depan bandara, kami menemukan ibu ibu yang sedang duduk menghadap ke Runway bandara dengan beberapa bungkus nasi di sebelahnya dan Termos air panas. Tanpa pikir panjang, si Mawar yang sedang kelaparan pun langsung bilang ke ibunya bahwa dia mau membeli Nasi. Eh tak disangka ibu yang baik hati itu justru memberikan sebungkus nasi buat mawar, tidak mau dibayar. Oh so sweet.... Sungguh mulia hati ibu itu. Usut punya usut, ternyata beliau membawa beberapa bungkus nasi dan Termos sebagai bekal menonton pesawat mendarat dan tinggal landas. -___-
- Kisah Kedua. Kisah ini saya alami ketika menunggu Mawar makan dengan lesehan di lantai depan BIL. (bayangkan, di bandara internasional, bisa lesehan dengan bebas sambil makan nasi bungkus pakai tangan. Di mana lagi coba?). Nah daripada ngeliatain mawar yang lagi asyik makan (walau dalam bungkusnya cuma berisi nasi + mie), mendingan ngeliatin orang orang di depan pintu kedatangan. Buseeet banyak banget orangnya, mereka sepertinya mau menyambut kedatangan rombongan artis. Tak berapa lama ada seorang Bapak Tua keluar dari pintu kedatangan dengan menarik satu kopor besar. Dan disambutlah bapak itu dengan penuh suka cita dan keharuan sampai ada yang menangis terharu. Setelah cukup lama saling bersalaman, akhirnya pintu kedatangan itu sepi kembali. What... jadi orang orang tadi yang jumlahnya berlusin-lusin itu cuma menjemput dan menyambut satu orang. Oh mungkin dia Ketua RT setempat -___-
- Kisah Ketiga. Setelah si Mawar masuk untuk check in, saya pun buru buru pulang karena langit sudah gelap, pertanda hujan segera turun. Nah sampai di Pintu Keluar untuk bayar parkir, ternyata antre panjang, bagaimana tidak. Jalur motor cuma dibuka satu. Padahal motornya banyak. Mata saya tiba tiba tertuju pada Motor yang berada di depan saya. Motor Supra Hitam dikendarai seorang laki laki. dengan membawa karung besar di jok belakang yang berisi KANGKUNG. Saya bingung, heran dan penasaran, bercampur aduk jadi satu. sambil menunggu antrean, lalu saya berpikir "hmmm apakah di dalam ada kebon kangkung ya? Kok bisa dapet kangkung sebanyak itu?" -___-
- Kisah Keempat. Setelah keluar BIL, saya pun memilih jalur ByPass dari pada jalur Praya-Kediri dengan harapan bisa ngebut dan bisa cepat sampai Mataram, dan bisa terhindar dari hujan yang segera turun. Tapi apa daya, setelah sekitar lima kilometer meninggalkan BIL, Jalur ByPass menjadi macet. Ada apa gerangan, jalur bebas hambatan ini kok bisa macet? Oalah ternyata ada Prosesi Nyongkolan (baca postingan mengenai Nyongkolan, kalau belum paham). Tak dapat dipungkiri iring2an pengantin itu memakan setengah jalur sendiri, alhasil kita harus bergantian jalur untuk bisa lewat. Padahal akhir akhir ini media lokal dengan gencarnya memberitakan bahwa Jalur ByPass BIL dijamin bebas Nyongkolan. Sudah macet, hujan turun pula. Dan saya pun dengan sigap mengambil Jas Hujan dari balik Jok. Brrrrr... -___-
Tarian Asih Tresna di Atas Tanjung Aan Lombok Tengah
Tanjung Aan, sebuah Pantai yang indah berada di Pantai Selatan Pulau Lombok. Berpasir Putih, bersih, berair jernih, dan dihiasi dengan bukit bukit, perpaduan yang luar biasa, lokasi ini sering dijadikan lokasi syuting, seperti Video Klipnya Indah Dewi Pertiwi (IDP) yg berjudul "Hipnotis", Film terbaru Rhoma Irama yang berjudul "Sajadah Ka'bah", acara acara wisata di TV khususnya Trans7, dan acara acara promosi wisata seperti kemaren siang (05112011).
Siang itu Pantai Tanjung Aan didatangi beberapa mobil rombongan yang berisi penari penari kecil serta gamelan lengkap beserta gendang Beleq. Mereka adalah utusan dari Pemda Lombok Tengah untuk melakukan Syuting Tarian Asih Tresna (Tarian Penyambutan) dalam rangka Program Visit Lombok Sumbawa 2012.
Penari penari tersebut berasal dari SMP di Lombok Tengah, mereka mengenakan pakaian adat Sasak lengkap. Cantik cantik lho. Di Bawah ini ada beberapa fotonya :
Desa Sasak Sade di Lombok Tengah
Desa Sade terletak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berjarak kurang lebih 30 kilometer dari kota Mataram. Untuk menemukan dusun ini tidak lah sulit karena berada tepat di tepi jalan raya Praya - Kuta. Nah week end ini, kita mengunjungi desa ini bersama tamu dari Jakarta (@Aufasidix).
Saat mulai masuk ke Desa ini, kami disambut dengan ramahnya ibu ibu penjual kain tenun. Di pintu masuk ada sebuah meja kecil dengan penjaganya, di meja itu terdapat semacam buku tamu (saat kondangan). Nah disitu para pengunjung bisa mengisi buku itu dan memberikan donasi seikhlasnya. Berdasarkan tulisan di Papan, setiap bulan desa ini dikunjungi sekitar lima ribuan wisatawan lokal/manca.
Kami pun masuk menelusuri gang gang kecil diantara rumah rumah adat sasak terbuat dari kayu dan bilik bambu pada dindingnya serta beratapkan ijuk jerami, sungguh unik. Nah tak berapa lama, kami bertemu dengan seorang anak kecil, sepertinya masih SMP, dia sedang asyik membuat kain tenun. Kami pun bertanya tanya mengenai kain itu. Hmm ternyata dia bisa menyelesaikan kain kecil dalam waktu satu minggu, kalau yang besar bisa sampai dua minggu. Woow, lama juga ya.
Setelah puas melihat lihat, kami pun membeli kain sarung untuk oleh oleh, setelah memilih warna dan corak, akhirnya memutuskan untuk membeli yang warna hitam dengan harga 40 ribu rupiah. Menurut kami itu sangat murah, dibandingkan dengan kesulitan saat membuatnya serta lama waktunya. Oia desa Sade ini, sekarang (nov 2011) dihuni sekitar 150 kepala keluarga.
Saat mulai masuk ke Desa ini, kami disambut dengan ramahnya ibu ibu penjual kain tenun. Di pintu masuk ada sebuah meja kecil dengan penjaganya, di meja itu terdapat semacam buku tamu (saat kondangan). Nah disitu para pengunjung bisa mengisi buku itu dan memberikan donasi seikhlasnya. Berdasarkan tulisan di Papan, setiap bulan desa ini dikunjungi sekitar lima ribuan wisatawan lokal/manca.
Kami pun masuk menelusuri gang gang kecil diantara rumah rumah adat sasak terbuat dari kayu dan bilik bambu pada dindingnya serta beratapkan ijuk jerami, sungguh unik. Nah tak berapa lama, kami bertemu dengan seorang anak kecil, sepertinya masih SMP, dia sedang asyik membuat kain tenun. Kami pun bertanya tanya mengenai kain itu. Hmm ternyata dia bisa menyelesaikan kain kecil dalam waktu satu minggu, kalau yang besar bisa sampai dua minggu. Woow, lama juga ya.
Setelah puas melihat lihat, kami pun membeli kain sarung untuk oleh oleh, setelah memilih warna dan corak, akhirnya memutuskan untuk membeli yang warna hitam dengan harga 40 ribu rupiah. Menurut kami itu sangat murah, dibandingkan dengan kesulitan saat membuatnya serta lama waktunya. Oia desa Sade ini, sekarang (nov 2011) dihuni sekitar 150 kepala keluarga.
Kamis, 03 November 2011
Museum Puri Lukisan, Bali
Museum Puri Lukisan Adalah sebuah museum seni rupa pertama, yang dikelola oleh swasta, di Bali. Diprakarsai oleh Cokorda Gede Agung Sukawati, I Gusti Nyoman Lempad serta seniman asing yang menetap di Ubud, Rudolf Bonnet. Berdiri pada 31 Januari 1956 dibawah naungan Yayasan Ratna Warta, dan di buka secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Yamin.
Di museum ini bisa dinikmati perkembangan seni rupa di Ubud, baik seni lukis maupun seni pahat. Beberapa karya dari para seniman asing yang berkarya di Ubud seperti: Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smit serta maestro lokal seperti I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made dan yang lainnya. Termasuk juga karya seni rupa pada masa Pita Maha.
Museum ini berada di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. Tepatnya di Jalan Raya Ubud, berjarak kira-kira 11 km dari Kota Gianyar. Jarak tempuh yang diperlukan bagi anda yang ingin mengunjungi Museum Puri Lukisan ini kurang lebih 90 menit perjalanan dari Bandara Ngurah Rai dan kira-kira 40 menit dari Kota Denpasar bila menggunakan kendaraan bermotor.
Museum Puri Lukisan Memiliki sejarah penting tentang perkembangan seni yang ada di Bali. Di dalam museum ini tersimpan berbagai koleksi lukisan dan patung. Lukisan disini kebanyakan menggambarkan suasana kehidupan masyarakat Bali serta cerita tentang kisah pewayangan. Museum ini terdiri dari 4 bangunan terpisah, dimana kesemuanya dipergunakan untuk memajang dan menyimpan koleksi lukisan dan patung-patung. Bangunan pertama dinamakan Pitamaha Gallery koleksi dari I Gusti Nyoman Lempad, Bangunan kedua dinamakan Ida Bagus Made Gallery koleksi dari Ida Bagus Made, Bangunan Ketiga dinamakan Wayang Gallery tempat menyimpan dan memajang berbagai koleksi lukisan wayang dan bangunan yang keempat dipergunakan sebagai tempat informasi sejarah para pendiri juga dipergunakan sebagai gedung marketing.
Di museum ini bisa dinikmati perkembangan seni rupa di Ubud, baik seni lukis maupun seni pahat. Beberapa karya dari para seniman asing yang berkarya di Ubud seperti: Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smit serta maestro lokal seperti I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Made dan yang lainnya. Termasuk juga karya seni rupa pada masa Pita Maha.
Museum ini berada di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. Tepatnya di Jalan Raya Ubud, berjarak kira-kira 11 km dari Kota Gianyar. Jarak tempuh yang diperlukan bagi anda yang ingin mengunjungi Museum Puri Lukisan ini kurang lebih 90 menit perjalanan dari Bandara Ngurah Rai dan kira-kira 40 menit dari Kota Denpasar bila menggunakan kendaraan bermotor.
Museum Puri Lukisan Memiliki sejarah penting tentang perkembangan seni yang ada di Bali. Di dalam museum ini tersimpan berbagai koleksi lukisan dan patung. Lukisan disini kebanyakan menggambarkan suasana kehidupan masyarakat Bali serta cerita tentang kisah pewayangan. Museum ini terdiri dari 4 bangunan terpisah, dimana kesemuanya dipergunakan untuk memajang dan menyimpan koleksi lukisan dan patung-patung. Bangunan pertama dinamakan Pitamaha Gallery koleksi dari I Gusti Nyoman Lempad, Bangunan kedua dinamakan Ida Bagus Made Gallery koleksi dari Ida Bagus Made, Bangunan Ketiga dinamakan Wayang Gallery tempat menyimpan dan memajang berbagai koleksi lukisan wayang dan bangunan yang keempat dipergunakan sebagai tempat informasi sejarah para pendiri juga dipergunakan sebagai gedung marketing.
Goa Gajah di Bali
Goa Gajah. Pertama kali mendengar kata itu, dalam pikiran saya goa tersebut ukurannya Besar, karena Gajah identik dengan Hewan yang berukuran besar. Akan tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Sebenarnya Goa Gajah adalah sebuah Pura, akan tetapi karena bentuknya seperti Goa, jadi dinamakan Goa. Nama Goa Gajah di duga berasal dari kata “Lwa Gajah”, nama Wihara atau pertapaan bagi biksu dalam agama Budha. Nama tersebut terdapat pada lontar Negarakertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M.
Kata Lwa atau Lwah (Loh) memiliki arti sungai. Oleh karena itu, yang dimaksud di sini adalah pertapaan yang terletak di Sungai Gajah atau di Air Gajah. Dalam prasasti tahun 1103 Saka yang dikeluarkan oleh Raja Jayapangus disebutkan bahwa ‘Air Gajah’ adalah pertapaan bagi Pendeta Siwa. Goa Gajah di kelilingi area persawahan dengan ke indahan ngarai sungai Petanu, susasananya masi asri dan hijau. Menurut catatan sejarah, tempat wisata Goa Gajah pertama kali ditemukan oleh sarjana Belanda, Prof. Gorris dan Eting pada tahun 1923.
Goa Gajah ini terletak di Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali. Kalau dari Denpasar, jaraknya sekitar 26 km. Di bawah ini ada beberapa foto di Pura Goa Gajah, Bali :
Kata Lwa atau Lwah (Loh) memiliki arti sungai. Oleh karena itu, yang dimaksud di sini adalah pertapaan yang terletak di Sungai Gajah atau di Air Gajah. Dalam prasasti tahun 1103 Saka yang dikeluarkan oleh Raja Jayapangus disebutkan bahwa ‘Air Gajah’ adalah pertapaan bagi Pendeta Siwa. Goa Gajah di kelilingi area persawahan dengan ke indahan ngarai sungai Petanu, susasananya masi asri dan hijau. Menurut catatan sejarah, tempat wisata Goa Gajah pertama kali ditemukan oleh sarjana Belanda, Prof. Gorris dan Eting pada tahun 1923.
Goa Gajah ini terletak di Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali. Kalau dari Denpasar, jaraknya sekitar 26 km. Di bawah ini ada beberapa foto di Pura Goa Gajah, Bali :
Langganan:
Postingan (Atom)