Tampilkan postingan dengan label Adat Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Pawai Ogoh Ogoh di Mataram , Lombok


Pawai ogoh ogoh menjadi sebuah tradisi tahunan bagi umat Hindu di Indonesia, tak terkecuali umat Hindu di Mataram, Lombok. Seperti biasanya, pawai ogoh ogoh di Mataram diadakan siang hari, sehari sebelum Nyepi yaitu siang ini 22 Maret 2012 , karena tahun ini Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 23 Maret 2012.

Pawai ogoh ogoh ini dimulai Jam 15.00 WITA, di sepanjang Jalan Pejanggik - Mayura, Mataram. Tapi beberapa ogoh ogoh sudah berkumpul di Lokasi Start mulai jam 12 siang. Berikut ini ada beberapa foto Pawai Ogoh Ogoh dari teman - teman di Twitter :








jangan lupa follow twitter kita @lombokkita untuk all about Lombok
LOMBOK itu INDAH

Sabtu, 10 Desember 2011

Kisah Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat

Pada postingan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman pertama saya mengikuti Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat. Event ini merupakan salah satu dari rangkaian Pujawali, yang diadakan satu tahun sekali saja. Untunglah sore ini saya berkesempatan hadir, meskipun awalnya dihadang oleh hujan.

Awalnya saya mengetahui ada event ini dari baliho yang dipasang di pinggir-pinggir jalan, dari situ saya tahu bahwa tanggal 10 Desember 2011 jam 16.00 WITA ada event tahunan Perang Topat di Pura Lingsar. Saya pun mengajak teman teman yang juga punya ketertarikan dengan budaya lombok, ada @momo_DM dan @Akbarozski.

Kita sampai di Lokasi sekitar pukul 15.00 WITA, suasana di lokasi pun sudah riuh ramai oleh warga yang ingin ikut serta meramaikan event ini.

Di Jalan masuk Pura ada Baliho besar :



Sepanjang perjalanan menuju lokasi (sekitar 300 meter dari tempat parkir), suasana seperti di pasar, di kanan kiri jalan banyak penjual berbagai macam barang dan makanan. Event ini lumayan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, mereka bisa berjualan di sekitar Pura Lingsar

Di dalam ternyata sudah lumayan penuh, banyak wartawan dari berbagai media, cetak maupun elektronik yang sedang sibuk mempersiapkan peralatannya serta pilih pilih lokasi yang pas.


Tidak berapa lama, bupati Lombok Barat, Bapak H. Zaini Arony datang ke lokasi, diiringi tarian Gendang Beleq menuju tenda yang disediakan :


Tidak berapa lama, Rangkaian Perang Topat dimulai, diawalai dengan iring iringan pasukan yang berpakaian tentara belanda, ibu-ibu dan bapak-bapak pembawa ketupat serta hasil bumi, dan tarian tawaq-tawaq.


Acara dibuka dengan sambutan dari Bapak H. Zaini Arony selaku Bupati Lombok Barat. Ada beberapa hal yang disampaikan bapak H. Zaini Arony dalam sambutannya, yaitu :
  • Ritual budaya "Perang Topat" merupakan filosofi suku Sasak yang beragama Islam dan Hindu di Pulau Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Barat.
  • Ritual ini sebagai sebuah bentuk penghormatan umat Islam di Pulau Lombok terhadap para wali. Begitu juga dengan umat Hindu di Pulau Lombok menjadikan ritual ini sebagai sebuah penghormatan bagi Sang Pencipta alam.
  • "Perang Topat" yang melibatkan dua pemeluk agama, yakni Islam dan Hindu, namun berasal dari etnis Sasak, hanya ada di Lombok dan tidak ada di Bali.
  • Perang Topat" adalah perang untuk perdamaian, kesejahteraan dan kekeluargaan yang diadakan secara turun temurun dan sudah menjadi salah satu tradisi warisan leluhur suku Sasak (nama suku di pulau Lombok) dan suku Bali.
  • "Ritual ini bukan perang seperti di Irak atau Palestina yang menggunakan bom. ’Perang Topat’ adalah perang untuk perdamaian. Jadi tidak perlu khawatir, tidak perlu bawa bom molotov atau senjata tajam. Dari Lingsar untuk perdamaian Indonesia
Bapak H Zaini Arony memulai dengan pelemparan ketupat untuk pertama kali, diikuti dengan warga yang sudah siap siap. Lempar lemparan ini berlangsung dengan arah utara - selatan. Bagian selatan ada di bawah, dan bagian utara ada di atas. Saya berada di kubu bawah, lemparin orang orang yang berada di atas, wow sensasinya luar biasa, lempar lemparin orang seenaknya tapi tanpa ada rasa amarah dan dendam, sungguh mengasyikan. Prosesi lempar lemparan cukup singkat, tidak sampai 30 menit, ada petugas yang meniup peluit panjang, tanda acara perang topat selesai.



jangan lupa follow twitter kita @lombokkita untuk all about Lombok

Sabtu, 05 November 2011

Tarian Asih Tresna di Atas Tanjung Aan Lombok Tengah

Tanjung Aan, sebuah Pantai yang indah berada di Pantai Selatan Pulau Lombok. Berpasir Putih, bersih, berair jernih, dan dihiasi dengan bukit bukit, perpaduan yang luar biasa, lokasi ini sering dijadikan lokasi syuting, seperti Video Klipnya Indah Dewi Pertiwi (IDP) yg berjudul "Hipnotis", Film terbaru Rhoma Irama yang berjudul "Sajadah Ka'bah", acara acara wisata di TV khususnya Trans7, dan acara acara promosi wisata seperti kemaren siang (05112011).

Siang itu Pantai Tanjung Aan didatangi beberapa mobil rombongan yang berisi penari penari kecil serta gamelan lengkap beserta gendang Beleq. Mereka adalah utusan dari Pemda Lombok Tengah untuk melakukan Syuting Tarian Asih Tresna (Tarian Penyambutan) dalam rangka Program Visit Lombok Sumbawa 2012.

Penari penari tersebut berasal dari SMP di Lombok Tengah, mereka mengenakan pakaian adat Sasak lengkap. Cantik cantik lho. Di Bawah ini ada beberapa fotonya :








Desa Sasak Sade di Lombok Tengah


Desa Sade terletak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, berjarak kurang lebih 30 kilometer dari kota Mataram. Untuk menemukan dusun ini tidak lah sulit karena berada tepat di tepi jalan raya Praya - Kuta. Nah week end ini, kita mengunjungi desa ini bersama tamu dari Jakarta (@Aufasidix).

Saat mulai masuk ke Desa ini, kami disambut dengan ramahnya ibu ibu penjual kain tenun. Di pintu masuk ada sebuah meja kecil dengan penjaganya, di meja itu terdapat semacam buku tamu (saat kondangan). Nah disitu para pengunjung bisa mengisi buku itu dan memberikan donasi seikhlasnya. Berdasarkan tulisan di Papan, setiap bulan desa ini dikunjungi sekitar lima ribuan wisatawan lokal/manca.

Kami pun masuk menelusuri gang gang kecil diantara rumah rumah adat sasak terbuat dari kayu dan bilik bambu pada dindingnya serta beratapkan ijuk jerami, sungguh unik. Nah tak berapa lama, kami bertemu dengan seorang anak kecil, sepertinya masih SMP, dia sedang asyik membuat kain tenun. Kami pun bertanya tanya mengenai kain itu. Hmm ternyata dia bisa menyelesaikan kain kecil dalam waktu satu minggu, kalau yang besar bisa sampai dua minggu. Woow, lama juga ya.

Setelah puas melihat lihat, kami pun membeli kain sarung untuk oleh oleh, setelah memilih warna dan corak, akhirnya memutuskan untuk membeli yang warna hitam dengan harga 40 ribu rupiah. Menurut kami itu sangat murah, dibandingkan dengan kesulitan saat membuatnya serta lama waktunya. Oia desa Sade ini, sekarang (nov 2011) dihuni sekitar 150 kepala keluarga.

Senin, 19 September 2011

Kain Tenun Khas Bayan, Lombok Utara

Sebuah ketidaksengajaan, kunjungan wisata yang tidak terencana dengan melihat secara langsung ibu ibu sedang menenun kain di daerah Bayan, Lombok Utara. Kisah berawal ketika kami (ane dan teman ane) keluar dari komplek Masjid Kuno Bayan Beleq. Nah di depan gerbang, seberang jalan ane lihat ada sebuah rumah kecil dengan dua orang ibu sedang menenun kain. Rasa penasaran ane muncul, ane langsung mendekatinya.

Satu orang ibu sedang memintal benang, dan yang satunya sedang menenun kain. Ane langsung melancarkan pertanyaan bertubi tubi. Haha, kaya polisi sedang menginterogasi tersangka pemerkosaan. Usut punya usut, nama kainnya "Kain Poleng", itu untuk yang motifnya kotak kotak kecil, untuk motif kotak kotak besar namanya "Lodong Abang", sedangkan untuk motif garis garis ane lupa namanya. Harganya mulai dari Rp 50.000,00 untuk kain yang paling kecil sampai ratusan ribu, tergantung ukuran nya. Kenapa harganya mahal? Yuph karena proses pembuatannya dikerjakan secara manual menggunakan tangan dengan bantuan alat bukan mesin, dengan waktu kurang lebih dua minggu untuk menyelesaikan satu kain.



Sabtu, 10 September 2011

Masjid Kuno Bayan Beleq Lombok Utara



Salah satu wisata sejarah di Pulau Lombok adalah Masjid Kuno Bayan Beleq yang terletak di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, tidak terlalu jauh dari Air Terjun Sendang Gila. Rute yang harus dilalui adalah Mataram - Pemenang - Tanjung - Kayangan - Akar akar - Bayan, dengan jarak 87 KM dan kami menempuh dalam waktu sekitar dua jam (kecepatan normal). Bila nanti sudah sampai di pertigaan Sendang Gila belokkan kendaraan anda ke kiri karena kalau lurus anda akan sampai di Air Terjun Sendang Gila. Lokasi tepatnya tidak terlalu jauh dari pertigaan tersebut dan berada di kiri jalan.

Berdasarkan artikel yang ane baca, mesjid ini adalah mesjid pertama yang dibangun di Pulau Lombok sekitar abad 16-17 M bersamaan dengan masuknya ajaran Islam di Pulau ini. Bangunannya sangat sederhana. Berukuran sekitar 9x9 meter persegi Pondasi dari bebatuan yang ditata rapi dan kokoh tanpa semen, dinding nya dari bambu, lantai tanah, bertiang kayu, atapnya terbuat dari bilah bilah bambu, sangat unik. Di bagian depan pintu masjid terdapat Gentong Air (padasan dlm bahasa jawa) untuk wudhu. Menurut info dari warga yang ane temui, bangunan ini sudah dipugar beberapa kali kecuali pondasinya.

Di dalam mesjid, di bagian tengah, terdapat sebuah Bedug yang tergantung, serta beleq (makam besar) dari salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yaitu Gaus Abdul Rozak. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil yang di dalamnya terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus masjid ini sejak dari awal.

Masjid ini sudah tidak digunakan untuk Solat Berjamaah sehari hari, akan tetapi digunakan saat Hari Hari Besar Keagaman Islam saja semisal Maulud Nabi Muhammad SAW ataupun saat Idul Fitri. Dan banyak juga warga baik sekitar maupun jauh yang berdoa di sekitar makam masjid.




Selasa, 06 September 2011

Tradisi Lebaran Topat di Lombok

Pagi-pagi bangun tidur, kok denger suara takbir ya.. Apa ini mimpi? Padahal khan idul fitri udah seminggu yang lalu. Hmm usut punya usut ternyata hari ini warga Lombok merayakan Lebaran Topat (Topat = Ketupat). Lebaran Topat adalah lebaran yang dirayakan warga Lombok setelah mereka Puasa Sunnah di Bulan Syawal yang dimulai dari tanggal 2 Syawal selama enam hari. karena udah menjadi tradisi, entah itu muslim maupun bukan, warga beramai ramai membuat ketupat dan Opor. Kegiatan utama yang dilakukan adalah ziarah makam batulayar yang dipercayai sebagai tempat mendaratnya Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami sekitar Abad 17 selaku penyebar Agama Islam di Lombok. Setelah itu mereka beramai ramai wisata ke pantai Batulayar dan Senggigi.

Suasana ramai juga terjadi di beberapa lokasi ziarah lainnya. Di kota Mataram saja, ada makam Loang Baloq dan makam Bintaro. Loang Baloq di Kelurahan Tanjung Karang merupakan makam penyebar Islam Gaos yang mati terbunuh oleh orang yang menolak ajaran yang dibawanya. Sedangkan Bintaro di Kelurahan Ampenan Utara adalah merupakan makam ulama Islam dan tokoh pejuang Saleh Sungkar. Adapun di sepanjang pantai barat Lombok Barat setelah Batu Layar, ada lima lokasi ziarah makam lainnya yaitu Anak Tiwuk di tengah laut Teluk Lembar, Jerangnjang di pantai Endok Lembar, Medana di Tanjung. Jadi ribuan warga yang berasal dari segala Penjuru Lombok akan berkumpul di lokasi lokasi tersebut, dan dipastikan jalanan akan macet di sekitar lokasi tersebut.

Oia selain itu ada juga tradisi Perang Topat, mengenai Perang Topat ini ane bahas di Postingan lain, beserta Foto Fotonya. Klik Aja di Sini untuk Perang Topat.

Selasa, 17 Mei 2011

Perang Topat, Tradisi Pencerminan Kerukunan Beragama di Lombok


Selain wisata alam, di Lombok juga banyak terdapat wisata budaya, salah satunya adalah "PERANG TOPAT", yang merupakan tradisi saling lempar dengan menggunakan ketupat. Dengan menggunakan pakaian adat ribuan warga Sasak dan umat Hindu bersama-sama dengan damai merayakan upacara keagamaan yang dirayakan tiap tahun di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, tepatnya setiap purnama ke-7 menurut kalender Sasak.

Tradisi Perang Topat yang diadakan di Pura terbesar di Lombok peninggalan kerajaan Karangasem itu merupakan pencerminan dari kerukunan umat beragama di Lombok. Prosesi Perang Topat dimulai dengan mengelilingkan sesaji berupa makanan, buah, dan sejumlah hasil bumi sebagai sarana persembahyangan dan prosesi ini didominasi masyarakat Sasak dan beberapa tokoh umat Hindu yang ada di Lombok. Sarana persembahyangan seperti kebon odek, sesaji ditempatkan didalam Pura Kemalik.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan perang topat, bertepatan dengan gugur bunga waru atau dalam bahasa Sasaknya “rorok kembang waru” yakni menjelang tenggelamnya sinar matahari sekitar pukul 17.30. Perang topat merupakan rangkaian pelaksanaan upacara pujawali yaitu upacara sebagai ungkapan rasa syukur umat manusia yang telah diberikan keselamatan, sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta.






Minggu, 06 Maret 2011

Pesta Bau Nyale, Lombok (part 2)

Foto di samping adalah undangan resmi yang ane dapet buat nonton Core Event "Bau Nyale" di Pantai Seger-Kuta 23/24 Februari 2011. Hahai, senangnya, kapan lagi bisa dapat ini, peristiwa setahun sekali ini tidak ane sia siakan. Melanjutkan Postingan sebelumnya (part 1), tentang pesta tari tarian dan drama putri mandalika yang berlangsung pukul 22.00 WITA - 03.00 WITA hari berkutnya, sekarang ane posting puncak acaranya, yaitu mencari Nyale/cacing di pantai Seger, Lombok.

Waw, ane terheran heran, terkagum kagum, jam tiga dini hari, sepanjang pantai seger dipenuhi ratusan bahkan ribuan manusia yang bersiap siap akan berburu cacing. Dari anak kecil, ABG, Penuda, bapak-bapak ibu ibu, bahkan ada juga nenek nenek juga kakek kakek, bercampur baur dengan membawa perlengkapan lengkap. Haha, konyol banget perlengkapan yang mereka bawa, ane ngakak gak abis abis.

Setidaknya ada tiga jenis perlengkapan yang dibawa:
  1. Alat Penerangan.
    Nah dikarenakan acaranya dini hari seperti ini, gelap gulita tentunya, meskipun panitia sudah menyediakan lampu sorot yang lumayan terang dari atas bukit pinggir pantai, akan tetapi cahayanya belum cukup kuat menerangi kawasan sepanjang pantai, sehingga peserta harus membawa alat penerangan sendiri. Kalau dilihat, alat penerangannya tidak ada yang aneh, ada yang membawa senter dengan di pegang pakai tangan, ada juga yang membawa penerangan yang ada pengikatnya, sehingga bisa diletakkan di kepala, cukup praktis.
  2. Alat Penangkap.
    Nah inilah alat yang paling penting, penangkap cacing. Alat alat inilah yang membuat ane ngakakz, gimana tidak, alatnya aneh aneh. Yang normal seh bawa seser (bahasa jawa) bentuknya seperti pada foto di bawah ini, nah yang gak normal ada yang bawa piring, mangkok (wkakakak), bahkan ada yang melepas kerudungnya untuk menangkap cacing.. Ngakak gulingz2. Aneh aneh aja orang ini.

  3. Alat Penampung
  4. Nah alat ini juga tidak kalah pentingnya, berguna untuk menampung hasil tangkapan. Kami dan beberapa orang memakai bekas botol Air Mineral ukuran 1,5 Liter. Selain itu ada juga yang membawa ember bekas cat, ember besar, tas kresek, baskom, bahkan ada yang membawa ketel (alat penanak nasi), wkakakak, ane ngakaks lagi.







Hmm, tidak terasa sudah jam lima pagi, buset rasanya kok cepet banget. Gila ini pengalaman takkan pernah ane lupakan, asik banget cing. Begadang, rame rame nyebur ke laut, teriak teriak, nyari cacing. Asik bangeeet pokoknya. Hmm, kapan lagi bisa kesini. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Hotel, mandi, sholat subuh dan kembali ke peradaban, karena jam setengah 8 harus masuk kantor lagi, :ngantuk: